Rabu, 29 Juni 2016

Goodbye My Lover

SELAMAT TINGGAL KEKASIH 'TERAKHIR'

Krisantus de Rosario "anto" Binsasi

Kebersamaan bukanlah jaminan dalam bercinta
lantaran kehendak hati dan pikiran tiada pernah merata
pengorbanan dan kesetiaan hanyalah kesemuan semata
karena jauh di lubuk hati tiada cinta yang nyata

kemesraan hanyalah penyempurna sandiwara
kata-kata cinta senantiasa indah tergaris di bibir
 menjadi bumbu penyedap asmara
dan semua itu meninggalkan luka yang sangat getir

tak pernah terbayang luka ini bisa tergores begitu dalam
tak tahu seberapa salah yang telah singgah di hati
hanya seribu maaf dalam diam
semoga mampu menjadi indah dan memberi lagi arti
Semua tak tahu,,,semua tak lagi sama,,,tiada warna,,,tinggal hitam...menyepi dalam kelam

selamat jalan cinta,,,selamat tinggal masa lalu
lupakan segala yang pernah terangkai
tinggalkan segalanya di alam kenangan
jangan lagi diam dalam pilu
ikhlaskan segalanya biar nanti membusuk laksana bangkai
dan segala rindu dan cinta yang pernah ada..biarlah abadi dalam bayangan

terima kasih atas kebaikan dan empati yang pernah tercipta
terima kasih pula atas sakit hati dan rasa kecewa yang tiada tara
bukan salah siapa-siapa...bukan aku atau kamu,,,apalagi kita
tak perlu ada rasa bersalah atau sesal karena kisah kita hanyalah sementara

biarlah semua lenyap seiring waktu bergulir
haruslah kita mulai awali semua ini dalam sendiri
sekali pun berat dan sakit... kelak pasti akan terbit bahagia di akhir

tetap semangat dan kuat berdiri
karena sekalipun badai datang...kelak pasti akan berganti semilir
 selamat tinggal kekasihku yang “terakhir”

kini aku hanya ingin sendiri untuk lebih mengenal diri

Kisah Kasih Yang Terkoyak

KISAH KASIH YANG TERKOYAK
Oleh : Krisantus de Rosario Anto Binsasi

...Cinta tak dapat diukur dari seberapa dalam kebersamaan dan seberapa banyak peberian
cinta bukan pula sumber dari segala penyesalan dan putus asa
cinta melampauai itu semua
cinta hadir pada dan untuk dirinya
tak lekang oleh waktu dan tiada tepian...

Kala itu, tahun 2011 dan bulan April baru memasuki hari yang ke-22. Hari itu kuputuskan untuk meninggalkan biara yang telah kuhuni selama tiga tahun. Keputusan ini merupakan buah dari permenunganku yang tidak singkat. Aku memutuskan untuk meninggalkan biara lantaran merasa tak lagi cocok dengan suasana kehidupan di biara dan jauh di lubuk hatiku telah terukir sebuah nama indah yang senantiasa menjadi penemani di alam khayal.
Agnes Maryani nama lengkapnya. Yani itulah sapaannya, seorang gadis hitam manis dan berambut panjang. Getaran asmara itu tercipta tatkala pertama kali aku berjumpa dengannya. Saat itu, aku menghadiri acara pentahbisan imam di salah satu paroki di kota ini dan di sanalah pertemuan itu terjadi.
Sejak itu, kami sering berkomunikasi lewat facebook atau handphone. Mulanya belum ada  keberanian untuk mengutarakan isi hatiku padanya. Kucoba memendam rasaku saat berjumpa dengannya, namun semakin kupendam perasaan itu semakin menyiksaku. Maka kucoba menuangkan semua gejolak perasaan itu dalam buku harianku.
Seiring berjalannya waktu, hubungan kami semakin dekat lantaran sering pergi bersama dan saling berbagi cerita. Rasa cintaku semakin mendalam padanya dan kutahu ada rasa yang sama lewat sinar mata dan perhatiannya padaku. Akhirnya kuberanikan diri untuk mengungkapkan seluruh perasaanku padanya. Bagai gayung bersambut ia ternyata memiliki perasaan yag sama denganku dan bersedia menjadi kekasihku.
Sejak itu, kami mulai berpacaran. Hari lepas hari, gejolak asmara kami menjadi semakin membara. Mulanya segalanya berjalan dengan baik dan teratur. Namun lama-kelamaan muncul keinginan untuk selalu bersama dan ada rasa takut kehilangan dia. Maka aku mulai sering bolos dari biara hanya untuk berjumpa dengannya. Awalnya rektor tidak mengetahui perbuatanku ini. Namun, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Hal inilah yang terjadi padaku, perbuatanku yang selama ini kubungkus rapi akhirnya diketahui oleh rektor. Aku segera disuruh menghadap ke kamar beliau. Perbincangan kami berjalan alot. Rektor akhirnya memberiku dua opsi, memilih panggilan atau memilih untuk mengundurkan diri dari biara. Beliau memberiku waktu tiga hari untuk mempertimbangkan semua itu. Akhirnya pada tanggal 22 April 2011 setelah seminggu ulang tahun gadisku yang ke-21, kuputuskan untuk meninggalkan biara demi dia.
Kumulai kehidupan yang baru di luar tembok biara dengan Yani. Awalnya sempat berat dan ganjil, namun karena ada Yani yang setia menemani aku pun merasa nyaman. Semakin hari rasa sayangku semakin mendalam padanya. Dalam hati kecilku selalu tersimpan sebaris doa agar kelak kami bisa meresmikan hubungan kami di pelaminan. Namun ada satu hal yang masih merisaukan hatiku karena ia belum mau agar hubungan kami diketahui oleh banyak orang, apalagi keluarganya. Aku sempat menanyakan hal ini padanya, namun ia hanya mengatakan bahwa ia belum siap untuk itu semua. Maka, kuputuskan untuk mengabaikannya untuk sementara waktu.
Hubungan kami menjadi semakin dekat. Ia semakin sering datang dan menginap di tempatku.  Namun aku selalu menjaga agar hubungan kami jangan sampai terseret ke arah yang salah. Semua ini kulakukan karena aku memang tulus meyayanginya dan masih memikirkan nasib kami yang belum begitu jelas. Dalam pikiranku, biaralah semua itu menjadi indah saat kami menikah nanti.
Cinta akan menjadi suci apabila dibasuh dengan luka dan air mata, begitulah ungkapan yang telah menjadi umum. Hal ini pun rupanya terjadi dalam hubungan kami. Rasa cinta yang begitu mendalam perlahan mulai pudar. Pertengkaran-pertengkaran kecil mulai terjadi dan semua itu selalu disebabkan oleh hal-hal kecil. Awalnya aku berpikir bahwa ini adalah hal yang biasa dalam bercinta. Akan tetapi, seiring waktu bergulir hubungan kami semakin memburuk. Hampir setiap hari ia meminta agar kami segera mengakhiri hubungan kami. Namun, aku mencoba menanggapinya dengan kepala dingin lantaran adat rasa akut kehilangan dia.
 Namun benar pula ungkapan ini, Memang tak jarang putik layu di jenjang mantang, begitu pun cinta yang tulus terkadang harus berakhir dengan luka di hati. Hubungan kami yang telah kami rajut hampir dua tahun ini, akhirnya berlalu dalam hitungan menit. Aku sempat mati-matian mempertahankan hubungan ini, namun rupanya ia tak ingin lagi melanjutkannya. Bukan karena ia memiliki laki-laki lain atau karena keluarganya yang tak setuju, namun itu semua dari keinginannya sendiri yang hingga saat ini belum kupahami. Ada yang hilang dari hidupku. Rasa sakit dan kecewa tiada tara menyelimuti hati dan pikiranku. Seandainya jumpa itu tak pernah terjadi, mungkin aku takkan keluar dari biara dan merasakan sakit hati ini. Namun, aku tak ingin mempersalahkan siapa pun karena inilah konsekuensi dari bercinta. Aku terima semua ini apa adanya. Belakangan hari jawaban itu akhirnya terkuak dengan sendirinya. Kekasihku ternyata seorang lesbian. Agnes  Maryani itulah nama lengkapnya, namun nona itulah sapaan manis dariku untuknya. Sampai kapan pun cinta ini selalu ada untuknya karena tiada yang lain selain dia. Biarlah waktu dan Tuhan yang tahu semua gejolak hati ini. Selamat tinggal cinta dan selamat jalan kenanganku.

Penulis adalah seorang alumni STF Driyarkara Jakarta 2016